Digunakan untuk membersihkan kaca, kompor, dan permukaan dapur lainnya. Amonia sangat efektif dalam menghilangkan noda membandel dan lemak, namun uapnya bisa mengiritasi saluran pernapasan dan mata jika digunakan di ruang tertutup tanpa ventilasi yang baik.
- Sodium Hypochlorite (Natrium Hipoklorit)
Bahan aktif dalam pemutih pakaian dan disinfektan lantai. Sangat ampuh dalam membunuh kuman, virus, dan jamur. Namun, jika dicampur dengan amonia, dapat menghasilkan gas beracun kloramina yang sangat berbahaya.
- Hydrochloric Acid (Asam Klorida)
Biasa digunakan dalam produk pembersih toilet untuk menghilangkan kerak dan noda karat. Asam ini bersifat sangat korosif dan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit serta kerusakan pada pakaian jika terkena langsung.
- Sodium Lauryl Sulfate (SLS)
Bahan surfaktan yang digunakan untuk menghasilkan busa pada sabun, pasta gigi, dan sampo. Meskipun efektif dalam mengangkat minyak dan kotoran, SLS dapat menyebabkan kulit kering atau iritasi pada individu dengan kulit sensitif.
Sering ditemukan dalam produk pembersih dan pengawet tekstil atau kayu. Penggunaan jangka panjang dalam ruangan tertutup berisiko karena formaldehida merupakan senyawa karsinogenik yang dapat memengaruhi sistem pernapasan.
- Pewangi Sintetis (Fragrance)
Digunakan untuk memberi aroma menyenangkan pada deterjen, pengharum ruangan, dan pelembut kain. Komposisinya bisa terdiri dari ratusan bahan kimia yang tidak selalu disebutkan di label, beberapa di antaranya dapat menyebabkan alergi atau reaksi iritasi
Bahan antimikroba yang dulunya umum dalam sabun antibakteri, pasta gigi, dan produk sanitasi. Penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat mengganggu sistem endokrin dan memicu resistensi terhadap antibiotik jika digunakan secara berlebihan
- Ethanol / Isopropyl Alcohol
Alkohol digunakan dalam hand sanitizer, antiseptik, dan pembersih kaca. Meskipun efektif dalam membunuh mikroorganisme, cairan ini sangat mudah terbakar dan menimbulkan risiko jika tertelan atau digunakan secara tidak benar